14 April 2013

Outdoor Learning

Outdoor Learning tidak sekedar memindahkan pelajaran ke luar kelas, tetapi dilakukan dengan mengajak siswa menyatu dengan alam dan melakukan beberapa aktivitas yang mengarah pada terwujudnya perubahan perilaku siswa terhadap lingkungan melalui tahap-tahap penyadaran, pengertian, perhatian, tanggungjawab dan aksi atau tingkah laku. Aktivitas luar kelas dapat berupa permainan, cerita, olahraga, eksperimen, perlombaan, mengenal kasus-kasus lingkungan di sekitarnya dan diskusi  (Husamah, 2011).

    Proses pembelajaran bisa terjadi di mana  saja, di dalam atau pun di luar kelas, bahkan di luar sekolah. Proses pembelajaran yang dilakukan di luar kelas atau di luar sekolah, memiliki arti yang sangat penting untuk perkembangan siswa, karena proses pembelajaran yang demikian dapat memberikan  pengalaman langsung ke pada siswa. Pengalaman langsung memungkinkan materi pelajaran akan semakin kongkrit dan nyata yang berarti proses pembelajaran akan lebih bermakna. Depdiknas (1990) mengemukakan bahwa belajar dengan menggunakan lingkungan memungkinkan siswa menemukan hubungan yang sangat bermakna antara ide-ide abstrak dan penerapan praktis di dalam konteks dunia nyata, konsep dipahami melalui proses penemuan, pemberdayaan dan hubungan (Hamzah dan Nurdin, 2011: 145). Samatowa (2006) mengatakan bahwa pembelajaran sains dapat dilakukan di luar kelas (outdoor education) dengan pemanfaatan lingkungan sebagai laboratorium alam (Hamzah dan Nurdin, 2011: 146).
Beberapa konsep yang melandasi pendekatan outdoor learning adalah :  (1) Pendidikan selama ini tidak menempatkan anak sebagai subjek; (2) Setiap anak berkebutuhan khusus dan unik. Mereka mempunyai kelebihan dan kekurangan, sehingga proses penyeragaman dan penyamarataan akan membunuh keunikan anak. Keunikan anak yang berkebutuhan khusus harus mendapat tempat dan dicarikan peluang agar anak dapat lebih berkembang; (3) Dunia anak adalah dunia bermain, tetapi pelajaran banyak disampaikan tidak lewat permainan; (4) Usia anak merupakan usia yang paling kreatif dalam hidup manusia, namun dunia pendidikan kurang memberikan kesempatan bagi pengembangan kreativitas.
Konsep Outdoor Learning ini sejalan dengan pendapat Dryden yang menyarankan melibatkan orangtua, kakek/nenek, dan masyarakat dalam proses belajar. Peran serta masyarakat dan orang-orang di sekitar sekolah dalam proses pembelajaran di sekolah dapat mengatasi keterbatasan guru dalam memperoleh informasi terkini. Selain itu, dengan memanfaatkan sumber belajar di luar kelas, siswa dapat memperoleh suasana baru yang dapat membuat mereka lebih fun, sehingga pembelajaran akan berlangsung dengan dinamis.
Outdoor learning senada pula dengan pendapat Paulo Freire (2002) yang mengatakan bahwa "every place is a school, everyone is teacher (setiap orang adalah guru, guru bisa siapa saja, dimana saja, serta hadir kapan saja, tanpa batas ruang, waktu, kondisi apapun)". Hal ini menegaskan siapa saja dapat menjadi guru dan pembelajaran tidak harus berlangsung di dalam kelas, sebab setiap tempat dapat menjadi tempat untuk belajar. Konsep Paulo Freire sangat tepat bila dihubungkan dengan metode Outdoor Learning. Outdoor Learning dapat menjadi salah satu alternatif bagi pengayaan sumber pembelajaran (Hapiningsih, 2010)
Outdoor Learning  memberikan dorongan perasaan kebebasan bagi siswa. Sebagai hasil dari tidak dibatasinya ruang berpikir siswa oleh dinding-dinding kelas. Sebagaimana diungkapkan Mary (2002: 1) bahwa:
"Thinking outside the box is sometimes difficult when students and teachers are working within the constraints of a traditional classroom. Students especially have their outlooks limited by classroom walls because they often do not yet have a wide perspective on the potential for their actions to have civic consequences".

Berpikir kreatif terkadang sulit ketika siswa dan guru belajar dengan ketidakleluasaan di dalam kelas tradisional. Hal tersebut dikarenakan pandangan yang dimiliki siswa dibatasi dinding kelas sehingga mereka belum memiliki perspektif yang luas tentang potensi yang ada pada tindakan mereka sebagai konsekuensi agar dapat bermanfaat bagi kepentingan umum. Hal tersebut senada dengan yang dikemukakan Eaton (2000) bahwa “Outdoor Learning experiences were more effective for developing cognitive skills than classroom based learning”  (Widowati, 2008: 8).
Ada berbagai bentuk implementasi Outdoor Learning yang dapat digunakan oleh guru di sekolah. Pertama, Jelajah Alam Sekitar (JAS). Pendekatan Jelajah Alam Sekitar merupakan pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan alam sekitar kehidupan peserta didik baik lingkungan fisik, sosial, teknologi maupun budaya sebagai objek belajar biologi yang fenomenanya dipelajari melalui kerja ilmiah. Model-model pembelajaran yang bisa dikembangkan dalam pendekatan JAS adalah model yang lebih bersifat student centered, lebih memaknakan sosial, lebih memanfaatkan multiresources dan assessment yang berbasis mastery learning. Beberapa strategi pembelajaan yang sejiwa dengan JAS antara lain CBSA, Inquri-based learning, problem based learning, cooperative learning, project-based learning, pendekatan keterampilan proses sains (Ridlo dan Rudiyatmi, 2002).
Kedua, investigasi sosial. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam menggali sumber tersebut adalah pendekatan inquiry melalui investigasi sosial. Dalam pendekatan yang dilakukan secara emansipatoris ini, siswa dipandang sebagai peserta belajar dan pengembang pengetahuan (knowledge) dan memiliki status yang equal atau mitra dengan guru. Model yang disebut Naturalistik Inquiry dari Lincold dan Guba ini dikembangkan dalam proses pembelajaran IPS melalui alat pengumpul data seperti pertanyaan/wawancara terhadap sumber belajar, observasi terhadap kenyataan sosial dan lain-lain. Guru IPS dapat mengembangkan model ini untuk memfasilitasi siswa sebagai subjek belajar dan bukan sebagai objek yang menerima pengetahuan dari guru dalam pembelajaran IPS (Supriatna, 2007).
Ketiga, karyawisata. Apabila ingin memberi gambaran atau penjelasan yang lebih kongkrit dari sekedar apa yang telah diberikan di kelas dan memang tidak memungkinkan terjadi di kelas, maka dapat diperoleh pengalaman-pengalaman langsung dan yang riil dengan jalan kunjungan-kunjungan khusus ke tempat-tempat tertentu. Tempat-tempat tersebut misalnya lingkungan (fasilitas) sekolah maupun lingkungan yang jauh sebagai metode karyawisata. Dalam pengertian pendidikan, karyawisata adalah kunjungan siswa keluar kelas untuk mempelajari obyek tertentu sebagai bagian integral dari kegiatan kurikuler di sekolah (Nana dan Rivai, 2010).
Keempat, praktikum lapang. Proses pembelajaran berbasis student centered learning (SCL) menitikberatkan kegiatan pembelajaran pada aktivitas yang langsung melibatkan siswa. Proses pembelajaran dalam bentuk praktikum diarahkan agar siswa memiliki kemampuan hardskill dari materi yang diberikan. Sehubungan dengan itu, proses pembelajaran praktikum dapat dilakukan di luar kelas (praktikum lapang).  Pembelajaran praktikum lapangan adalah suatu proses untuk meningkatkan   keterampilan peserta  dengan menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan keterampilan yang diberikan dan peralatan yang digunakan. Pembelajaran praktikum lapangan merupakan  suatu proses pendidikan yang berfungsi membimbing peserta didik secara sistematis dan terarah untuk dapat melakukan suatu keterampilan .
Amihardja (2010) Kelima, Praktek Kerja Lapangan. Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah salah satu bentuk implementasi secara sistematis dan sinkron antara program pendidikan di sekolah dengan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan kerja secara langsung di dunia kerja untuk mencapai tingkat keahlian tertentu. Dunia kerja/dunia usaha merupakan sebuah laboratorium yang berada di luar lingkungan sekolah, tempat siswa akan menerima petunjuk dan bimbingan yang sangat berarti dalam bentuk kegiatan pelatihan, praktik langusng serta pengenalan terhadap berbagai hal misalnya sistem operasional, etika perusahaan, organisasi dan hirarki dalam perusahaan, perilaku dan sebagainya.
Keenam, Kemah. Perkemahan dapat dilakukan untuk menghayati bagaimana kehidupan alam seperti suhu, iklim, suasana, untuk untuk bidang ilmu pengetahuan alam seperti ekologi, biologi, fisika, dan kimia.  Siswa dituntut merekam apa yang ia alami, rasakan, lihat dan kerjakan selama kemah berlangsung. Hasilnya dibawa ke sekolah untuk dibahas dan dipelajari bersama-sama.
Tahapan proses pembelajaran dengan menggunakan metode Outdoor Learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa dapat ditempuh dengan (Hamdan ali, 2008: 20) :
1.    Guru menentukan lokasi di luar kelas
2.    Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok
3.    Guru membuat panduan belajar siswa di luar kelas
4.    Guru mengajak siswa ke luar kelas untuk melaksanakan proses pembelajaran
5.    Guru mengajak siswa untuk berkumpul sesuai kelompoknya
6.    Memberi salam dan mengabsen siswa
7.    Memberi motivasi kepada siswa tentang pentingnya lingkungan sebagai sumber belajar
8.    Guru memberikan panduan belajar kepada masing-masing kelompok disertai dengan penjelasan
9.    Masing-masing kelompok berpencar pada lokasi untuk melakukan pengamatan sesuai dengan yang di tugaskan guru
10.    Guru membimbing siswa selama pengamatan
11.    Setelah siswa selesai melakukan pengamatan selanjutnya siswa diajak berkumpul kembali untuk mendiskusikan hasil pengamatan
12.    Guru memandu siswa dalam melakukan diskusi dan diberi kesempatan memberi tanggapan
13.    Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan hambatan/kesulitan yang dialami dalam proses pembelajaran
14.    Guru bersama siswa membuat kesimpulan.
Secara garis besar Menurut Hamzah dan Nurdin (2011: 146) konsep pembelajaran dengan menggunakan Metode Outdoor Learning memiliki beberapa kelebihan, antara lain sebagai berikut :
1.    Peserta didik dibawa langsung kedalam dunia yang kongkret tentang penanaman konsep pembelajaran, sehingga peserta didik tidak hanya bisa menghayalkan materi;
2.    Lingkungan dapat digunakan setiap saat, kapan pun dan dimana pun sehingga tersedia setiap saat, tetapi tergantung dari jenis materi yang sedang diajarkan;
3.    Konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan tidak membutuhkan biaya karena semua telah disediakan oleh alam lingkungan;
4.    Mudah di cerna oleh pesrta didik karena pesrta didik disajikan materi yang sifatnya konkret bukan abstrak;
5.    Peserta didik akan lebih leluasa dalam berfikir dan cenderung untuk memikirkan materi yang diajarkan karena materi yang diajarkan telah tersaji didepan mata (konkret).
Menurut Hamzah dan Nurdin (2011: 147) dalam aplikasinya, konsep pembelajaran dengan menggunakan Outdoor Learning memilik beberapa kelemahan antara lain adalah sebagai berikut :
1.    Lebih cenderung digunakan pada mata pelajaran IPA atau sains dan sejenisnya;
2.    Perbedaan kondisi lingkungan disetiap daerah (dataran rendah dan dataran tinggi);
3.    Adanya pergantian musim yang menyebabkan perubahan kondisi lingkungan setiap saat;
4.    Timbulnya bencana alam;

0 komentar:

Poskan Komentar