script ujian

Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan

23 Agustus 2013

Metode Ilmiah Biologi

Metode ilmiah adalah cara kerja dari ilmu pengetahuan, brsifat ilmiah serta merupakan langkah-langkah sistematis yang digunakan dalam ilmu-ilmu tertentu yang baik direfleksikan atau diterima begitu saja.

           Observasi Prinsip-prinsip Umum
Metode atau cara kerja Ilmu pengetahuan pertama kali di kemukakan oleh Filsuf Yunani, Aristotelas. Ia memandang penelitian ilmiah sebagai kelanjutan dari observasi-observasi empiris ke prinsip umum (induksi) dan kemudian dari prisip umum ke observasi(deduksi).
Jadi, inti dari metode ilmiah adalah dimana seseorang mampu berfikir logis, analistis, (menggunakan analisis), dan empiris (seseai kenyataan).
Dalam melakukan aktifitas ilmiah, kita perlu memperhatikan struktur metode ilmiah, struktur metode penelitian ilmiah, stuktur penulisan ilmiah atau cara penyusun laporan ilmiah, serta bahasa ilmiah. Selain itu kita mampu bersikap ilmiah saat melakukan aktifitas ilmiah.

Struktur Metode Ilmiah
Penelitian akan berhasil dengan baik apabila dilakukan sesuai dengan struktur metode ilmiah. Sruktur metode ilmiah memiliki beberapa langkah yang terdiri dari:
a. perumusan masalah
b. pembuatan kerangka berfikir
c. penarikan hipotesis
d. pengujian hipotesis, dan
e. penarikan kesimpulan.

a. Perumusan masalah
Proses kegiatan ilmiah dimulai ketika kita tertarik pada sesuatu hal. Ketertarikan ini karene manusia memiliki sifat perhatian. Pada saat kita tertarik pada sesuatu, sering timbul pertanyaan dalam pikiran kita. Perumusan masalah merupakan langkah untuk mengetahui masalah yang akan dipecahkan sehingga masalah tersebut menjadi jelas batasan, kedudukan, dan alternatif cara untuk memecahkan masalah tersebut. Perumusan masalah juga berarti pertanyaan mengenai suatu objek serta dapat diketahui factor-faktor yang berhubungan dengan objek tersebut.
b. Pembuatan kerangka berfikir
Pembuatan kerangka berfikir merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan antar berbagai faktot yang berkaitan dengan objek dan dapat menjawab permasalahan. Pembuatan kerangka berfikir menggunakan pola berfikir logis, analitis, dan sintesis atas keterangan-keterangan yang diperoleh dari berbagai sumber informasi. Hal itu diperoleh dari wawancara dengan pakar atau dengan pengamatan langsung.
c. Penarikan hipotesis
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu permasalahan. Penyusunan hipotesis dapat berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh orang lain. Dalam penelitian, setiap orang berhak menyusun Hipotesis.
d. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara menganalisis data. Data dapat diperoleh dengan berbagai cara, salah satunya melalui percobaan atau eksperimen. Percobaan yang dilakukan akan menghasilkan data berupa angka untuk memudahkan dalam penarikan kesimpulan.
Pengujian hipotesis juga berarti mengumpulkan bukti-bukti yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat bukti-bukti yang mendukung hipotesis.
e. Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima.
Hipotesis yang diterima dianggap sebagai bagian dari pengetahuan ilmiah, sebab telah memenuhi petrsyaratan keilmuan. Syarat keilmuan yakni mempunyai kerangka penjelasan yang konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta telah teruji kebanarannya.

UPAYA MENYINGKAP SUATU MASALAH DAN PENERAPANNYA DALAM METODE ILMIAH
  No.
Struktur Metode Ilmiah
Penerapan langkah-langkah Metode Ilmiah
1
2
3
4
5
Perumusan masalah
Penyusun kerangka berfikir
Penarikan hipotesis
Pengujian hipotesis
Penarikan kesimpulan
Benarkah kehidupan berasal dari benda mati?
Membaca teori abiogenasis dan hasil penelitian para ilmuan pendukungnya.
Makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebalumnya.
Melakukan percobaan dengan dua bua toples yang masing-masing d isi sekerat daging. Toples I ditutup dan toples II dibiarkan terbuka. Setelah beberapa hari toples I tidak ditemukan adanya belatung dan pada toples II di temukan banyak belatung
Belatung pada daging yang membusuk berasal dari telur lalat yang menetas, jadi makhluk hidup berasal dari mahkluk hidup.
 
Contoh Penelitian Induksi dan Deduksi
Induksi
Ari mengamati bahwa daun padi, jagung, sirih, cengkeh, jambu air, jambu biji, serta mangga, semuanya berwarna hijau. Hasil observasi yang di tinjaklanjuti dengan penelitian, ari menemukan bahwa semua daun tersebur mengandung zat hijau daun atau klorofil. Simpulan berdasarka logika induksi adalah ”semua daun berwarna hijau mengandung klorofil”. Berdasarkan data empiris dapat ditarik kesimpulan yang bersifat umum, yaitu semua daun berwarna hijau mengandug klorofil.
Deduksi
Maria dan Nelly daun pohon Damar di daerah pegunungan dan daun Hydrilla di danau, berdasarkan pustaka yang mereka baca, walaupun berbeda habitat, Maria dan Nelly menggunakan Logika Deduksi menyimpulkan bahwa kedua daun tanaman tersebut mengandung klorofil. Dala penelitian tersebut, prisip umumnya ialah semua daun hijau mengandung Klorofil. Hal khisusnya ialah daun damar dan daun hydrilla mengandung klorofil.

Ciri-ciri Mahluk Hidup

Contohnya gerak daun menguncup, gerak batang menghadap cahaya, gerak akar mendekati sumber air serta gerak mekarnya bunga.
Peka terhadap Rangsang

mimosa_pudica 
 
Makhluk hidup peka terhadap perubahan yang terjadi disekitarnya. Alat pengenal lingkungan pada manusia dan hewan berupa indra. Indra peka terhadap rangsang. Rangsang dapat berupa cahaya, bunyi, bau, rasa atau sentuhan. Dengan adanya indra yang peka terhadap rangsang-rangsang tersebut, manusia dan hewan mempunyai kemampuan melihat, mendengar, mencium, mengecap rasa dan menyentuh/meraba.
Tumbuhan tidak mempunyai alat indra, tetapi peka terhadap rangsang. Misalnya tumbuhan putri malu menguncupkan daunnya jika disentuh dan pertumbuhan batang kearah cahaya matahari.

Makan
makan
Makanan diperlukan oleh makhluk hidup sebagai sumber energi, untuk pertumbuhan dan mengganti sel-sel yang rusak. Tumbuhan hijau memperoleh makanan dengan memproduksi sendiri. Tumbuhan hijau sebagai produsen mengolah zat-zat anorganik menjadi zat organic melalui proses fotosintesis.
Fotosintesis adalah proses pembuatan makanan oleh tumbuhan hijau dengan bantuan cahaya.
Tumbuhan tak berhijau daun, hewan dan manusia tidak dapat membuat makanan sendiri. Mereka memanfaatkan makanan dari hasil fotosintesis tumbuhan hijau dan sumber lain dari hewan dan alam.
 
Mengeluarkan Zat Sisa

Dalam proses penyerapan makanan, terbentuklah zat sisa yang merupakan zat yang tidak terserap oleh tubuh. Zat-zat itu disebut zat sisa oksidasi biologis, misalnya air dan karbon dioksida.Berdasarkan aktivitas tubuh dan hasilnya, pengeluaran zat-zat sisa dibedakan atas : Ekskresi, Respirasi, Defekasi.
Ekskresi, merupakan pengeluaran zat-zat sisa yang dilakukan oleh kulit dan ginjal. Kulit akan mengeluarkan zat sisa yang dinamakan keringat karena adanya kelenjar keringat di bawah kulit. Ginjal akan menyaring darah dan mengeluarkan zat sisa yang disebut urine.
Respirasi, merupakan pengeluaran CO2 sebagai zat sisa proses respirasi yang dikeluarkan melalui hidung.
Defekasi, merupakan pengeluaran zat sisa pencernaan makanan yang berupa tinja (feses) melalui anus.
 
Tumbuh
Makhluk hidup mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan meliputi perubahan ukuran tubuh, yaitu luas, tinggi dan berat. Perkembangan adalah perubahan menjadi dewasa.
 
Berkembang Biak
Makhluk hidup berkembang biak untuk menghasilkan keturunan. Cara perkembangbiakan makhluk hidup berbeda-beda. Hewan berkembang biak antara lain dengan melahirkan, bertelur, bertelur-melahirkan, bertunas, fragmentasi atau membelah diri. Tumbuhan berkembang biak secara alami dan buatan.
Perkembangbiakan alami pada tumbuhan yaitu dengan biji (kawin) dan dengan tidak kawin, misalnya membelah diri, spora, tunas, umbi, geragih dan akar tinggal. Perkembangbikan tumbuhan secara buatan, misalnya stek, cangkok, runduk dan kultur jaringan.
 
Beradaptasi
Makhluk hidup mampu beradaptasi dengan lingkungan. Macam-macam adaptasi makhluk hidup adalah adaptasi morfologi, adaptasi tingkah laku, dan adaptasi fisiologi.
Adaptasi morfologi adalah penyesuaian terhadap lingkungan yang berhubungan dengan bentuk tubuh atau alat tubuh. Contoh pada katak dan itik terdapat selapu renang pada kakinya untuk berenang.
Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian terhadap lingkungan dalam bentuk tingkah laku. Contoh : hewan bermigrasi ke lain tempat yang banyak sumber makanan.
Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian terhadap lingkungan dalam bentuk tingkah laku. Contoh : berkeringat saat cuaca panas.
Dari ciri-ciri tersebut diatas ada perbedaan ciri hidup yang dimiliki antara hewan/manusia dengan tumbuhan, anatara lain :
Hewan/Manusia
1.Bergerak : Melakukan gerak pindah tempat.
2.Cara memperoleh makanan: Tidak dapat membuat makanan sendiri (heterotrof) . Bahan yg dimakan berupa zat organik.
3.Pertumbuhan: Hanya sampai batas usia tertentu
Tumbuhan
1.Bergerak :Tidak dapat berpindah tempat sendiri.
2.Cara memperoleh makanan: Dapat membuat makanan sendiri (autotrof), Bahan yang diperlukan untuk membuat makanan berupa zat anorganik
3.Pertumbuhan : .Tumbuh terus menerus sampai mati.

3 Agustus 2013

Pengelompokan Mahluk Hidup

Whitaker (1969) mengelompokkan mahluk hidup ke dalam lima kerajaan/regnum:
1. Regnum Monera
Monera merupakan golongan organisme yang bersifat prokariotik (inti selnya tidak memiliki selaput inti). Regnum ini dibagi menjadi dua golongan yaitu :
1.1. Golongan bakteri (Schizophyta/Schizomycetes)
1.2. Golongan ganggang biru (Cyanophyta)
2. Regnum Protista
Protista merupakan organisme yang bersifat eukariotik (inti selnya sudah memiliki selaput inti). Pembentukan regnum ini diusulkan oleh Ernst Haeckel atas pertimbangan adanya organise-organisme yagn memiliki ciri tumbuhan (berklorofil) sekaligus memiliki ciri hewan (dapat bergerak). Yang termasuk dalam regnum ini adalah :
2.1. Protozoa
2.2. Ganggang bersel satu
3. Regnum Fungi (Jamur)
Fungi merupakan organisme uniseluler (bersel satu) dan multiseluler (bersel banyak) yang tidak berklorofil, fungi multiseluler dapat membentuk benang-benang yang disebut hifa. Seluruh anggota dari regnum ini bersifat heterotrof. Regnum ini dibagi menjadi beberapa divisi yaitu:
1.1. Oomycotina
1.2. Zygomycotina
1.3. Ascomycotina
1.4. Basidiomycotina
1.5. Deuteromycotina
4. Regnum Plantae (Tumbuhan Hijau)
Meliputi organisme bersel banyak (multiseluler) dan sel-selnya mempunyai dinding sel. Hampir seluruh anggota berklorofil sehinga sifatnya autotrof. Yang termasuk dalam Regnum Plantae adalah:
1.1. Ganggang bersel banyak (diluar ganggang biru)
1.2. Lumut (Bryophyta)
1.3. Paku-pakuan (Pteridophyta)
1.4. Tumbuhan Berbiji (Spermatophyta)
5. Regnum Animalia (Kerajaan Hewan)
Meliputi organisme bersel banyak, yang sel-selnya tidak berdinding sel dan tidak berklorofil sehingga bersifat heterotrof. Yang termasuk regnum ini adalah filum
:
1.1. Porifera
1.2. Coelenterata
1.3. Platyhelminthes
1.4. Nemathelminthes
1.5. Annelida
1.6 Echinodermata
1.7 Arthropoda
1.8 Chordata

Perbedaan Hewan dan Tumbuhan

Berikut ini adalah perbedaan antara spesies tumbuh-tumbuhan dengan hewan secara umum dari berbagai aspek, antara lain:
  1. Berdasarkan cara mendapatkan sumber makanan pada hewan bersifat heterotrof, sedangkan pada tumbuhan bersifat autotrof dan heterotrof.
  2. Berdasarkan pigmen atau pigmentasi, hewan tidak memiliki klorofil, sedangkan pada tumbuhan umumnya berklorofil.
  3. Berdasarkan susunan tubuhnya hewan mempunyai susunan tubuh dan sejumlah tipe organ yang tetap, sedangkan tumbuhan hidupnya menetap di suatu tempat dengan organ tubuh yang selalu berganti-ganti
  4. Berdasarkan reaksi terhadap rangsangan hewan lebih peka dan memiliki sistem saraf, sedangkan pada tumbuhan kurang peka dan tidak mempunyai sistem saraf.
  5. Berdasarkan pertumbuhannya hewan secara tertutup dengan ukuran dan bentuk yang relatif terbatas, sedangkan pada tumbuhan ukuran dan bentuk mudah berubah dengan dipengaruhi kondisi lingkungan sekitar
  6. Berdasarkan komposisi cairan tubuhnya hewan memiliki cairan tubuh yang kaya akan unsur zat garam, sedangkan pada tumbuhan cairan tubuhnya sedikit mengandung garam
  7. Berdasarkan kemampuan berdiferensiasi hewan lebih berdiferensiasi dengan memiliki banyak organ tubuh, sedangkan pada tumbuhan sedikit diferensiasi dengan sedikit organ tubuh yang menyusunnya.
  8. Berdasarkan susunan selnya hewan tidak memiliki dinding sel dengan vakuola yang kecil atau bahkan tidak memiliki vakuola, sedangkan pada tumbuhan memiliki vakuola besar dan memiliki dinding sel tebal pada sel-selnya.

2 Agustus 2013

Characteristics of Life

According to biology, which is the science that deals with the study of living organisms, it is life that distinguishes active organisms from matter that is inorganic in nature. If something has life then it will be self-sustaining in nature compared to something that does not possess life, either because it is dead or it is inanimate. All living organisms are made up of cells, use energy, maintain homeostasis, respond to stimuli, reproduce, adapt to changes in the environment, and pass on characteristics to their off-springs.

If you study biology, characteristics that define life is one of the foremost things that you will learn. All living organisms exhibit these features. They share these basic properties of life, which categorizes them as living and therefore different from inanimate beings. While there are some characteristics that are species specific, these seven life characteristics are common to all living beings. Here we take a look at what are the characteristic features of life.

Cells
Cells are the basic units of life of every living organism. All living beings are composed of one or more cells. There are unicellular organisms that are made up of just one cell and multicellular organisms that are made up of many cells with each cell having specific functions. A cell consists of organelles like mitochondria, nucleus, Golgi apparatus, etc. which are the equivalents of organs in our body. These organelles are made up of carbohydrates, proteins, lipids, and nucleic acids and perform functions like producing energy in the form of ATP, transferring molecules, synthesis of proteins, etc. Cells that are of the same type combine and form tissues which in turn form organs.

Homeostasis
All living organisms maintain homeostasis, which is the process by which the internal environment of the body is regulated in order to maintain a stable state. This process was defined first by Claude Bernard and then by Walter Cannon. All organisms need to maintain a stable environment in order to sustain cell metabolism that is essential to life. If the internal environment of an organism is disturbed, then it is possible that the normal processes are disrupted. One of the best examples to explain this phenomenon of maintaining homeostasis is how the body balances change in body temperature by performing actions that balance out. If you are feeling cold, then inadvertently you tend to shiver which, causes the muscles to produce heat. Alternatively, if you are feeling hot, then the body produces sweat that helps in evaporation of heat from the body.

Heredity
All living organisms receive some hereditary traits from their parent organisms. All organisms pass their genes to their off-springs. Genes which are composed of DNA have all the information that are hereditary in nature. These genes are what make an organism predisposed to exhibit certain characteristics or to behave in a certain manner. The study of heredity is called genetics and it is heredity that causes a species to evolve by accumulation of different characteristics from parent organisms over a period of time.

Use of Energy
All living organisms need energy to perform various functions like development, growth, damage repair, reproduction, etc. Most living organisms need this energy in the form of ATP and their requirement stems from the need for energy for the functions of movement and metabolism. Metabolic activities involve a set of processes that allow living organisms to maintain life. Anabolism uses energy to convert chemicals into cellular components like molecules and catabolism produces energy by breaking down molecules from organic matter. Plants convert the energy derived from sunlight to produce nutrients by the process of photosynthesis. Animals on the other hand consume other organisms to supplement their need for energy.

Reproduction
All living organisms reproduce, which is the process by which new organisms of the same type are produced. Reproduction can be asexual, where a single parent produces an organism or sexual, which combines male and female sex cells and two parent organisms of each gender contribute hereditary information to the organism. When a unicellular organism divides to form a daughter cell, it is called asexual reproduction and the process by which animals reproduce is called sexual reproduction.

Response to Environment
All living organisms respond to stimuli in their environment, like light, temperature, sound, heat, etc. The response can be in any form, for example when unicellular organisms are exposed to chemicals, they contract. In human beings, an accidental touch with any object exhibiting extreme temperatures can cause a sudden jerk. Response is generally expressed by an organism by some kind of motion.

Evolution and Adaptation
All organisms undergo the process of adaptation to suit themselves to their environment. For example, most plants that are found in the desert have succulent leaves that allow them to store and conserve water. They evolve over a period of time according to their environment. This is fundamental to the process of evolution.

buzzle

23 Juli 2013

Molekul Kehidupan

Dasar kimia kehidupan sel adalah masing-masing penyusun sel yang tersusun atas molekul atau materi. Materi tersusun atas elemen atau atom. Elemen atau atom adalah unti dasar kimia yang tidak dapat dipecah dengan proses kimia. Atom tersusun atas subpartikel atom yang disebut neutron, proton, dan elektron. Neutron dan proton terdapat pada inti atom dan elektron terdapat pada kulit atom. Jumlah proton menunjukkan nomor atom. Atom yang sama memiliki sifat, init dan kulit, yang sama. Atom yang berbeda memiliki sifat dan jumlah subatom yang berbeda. Atom yang sama dapat memiliki jumlah neutron yang berbeda, dan mereka disebut isotop. Di alam 99% atom Carbon adalah dalam bentuk isotop. Isotop ini telah dimanfaatkan dalam memecahkan banyak masalah biologi dan lain-lain masalah dalam ilmu pengetahuan. Atom-atom sesama atau atom yang berbeda dapat saling berikatan. Ikatan antar atom membentuk molekul.Ikatan antar atom itu disebut ikatan kimiaIkatan kimia antara ion disebut ikatan ion, yaitu elektron dari suatu atom dapat diperoleh dari atau hilang ke atom lainnya. Banyak jenis ikatan kimia, ada ikatan hidrogen, ikatan antar atom hidrogen, ada ikatan kovalen, dan lain-lain ikatan kimiaIkatan hidrogen pada suatu molekul menentukan sifat polaritas molekul. Artinya apabila ada ikatan hidrogen pada suatu molekul berarti molekul itu bersifat polar. Tubuh kita tidak dapat membuat air tetapi dalam tubuh dapat berlangsung sejumlah reaksi kimia yang menghasilkan materi.Ikatan antar atom dan bahkan antar molekul menentukan stabilitas antar komponen yang saling berikatan itu dan kemudian menentukan stabilitas struktur dan menentukan fungsi molekul apabila itu adalah molekul yang menyusun kehidupan.
Molekul-molekul yang menyusun kehidupan dan karenanya disebut molekul biologi, yaitu molekul yang dapat dijumpai terdapat dalam suatu sel. Molekul-molekul tersebut adalah karbohidrat, protein, lemak, dan asam nukleat. Sel dapat membuat molekul-molekul. Hampir semua molekul yang dibuat sel (komponen dasar molekul biologi) terdiri atas sejumlah atom carbon yang saling berikatan dan berikatan dengan atom lain. Oleh karena itu, komponen yang mengandung atom carbon diketahui sebagai komponen organik. Jumlah atom carbon dalam suatu molekul biologi digunakan dasar pengelompokan molekul. Dengan kata lain keragaman molekul kehidupan didasarkan pada kenadungan atom carbon yang dimilikinya. Komponen organik memiliki kerangka atom carbon dan terikat pada kerangka tersebut adalah atom-atom yang membentuk suatu gugus fungsional, misalnya gugus alkohol, gugus amino, gugus aldehid, gugus keton, dll. Sel membuat molekul besar (makro molekul) dari molekul-molekul kecil dengan reaksi kimia.Molekul besar selain dibangun dengan reaksi kimia juga dihancurkan atau dipecah dengan reaksi kimia. Ada reaksi yang disebut sintesa dehidrasi yaitu sintesa molekul dengan cara menghilangkan molekul airnnya. Ada reaksi yang disebut hidrolisis, yaitu proses pemecahan molekul dengan air. Reaksi kimia terjadi pada sistem dalam organisme, baik intraseluler (dalam sel) atau ekstraseluler (di luar sel).

20 Juli 2013

Ciri-Ciri Mahluk Hidup

Mengapa batu disebut makhluk tak hidup, sedangkan pohon disebut makhluk hidup? Ingatkah kamu bahwa hanya makhluk hidup yang mempunyai ciri-ciri hidup. Ciri-ciri hidup tersebut adalah bernapas, bergerak, makan, mengeluarkan zat sisa, tumbuh, berkembangbiak, peka terhadap rangsang dan beradaptasi.

Bernapas
Ciri utama makhluk dikatakan hidup yaitu bernapas. Ketika bernapas makhluk hidup menghirup oksigen (O2) dan menghembuskan karbon dioksida (CO2). Oksigen diperlukan untuk proses oksidasi zat makanan yang menghasilkan energi dan karbon dioksida. Energi berguna untuk menjalankan kegiatan hidup.
Reaksi oksidasinya sebagai berikut :
Zat makanan + oksigen —> energi + uap air + karbon dioksida.
 
Bergerak
Ada dua macam gerak yaitu gerak aktif dan gerak pasif. Gerak aktif adalah gerak berpindah tempat misalnya dengan kaki, sayap dan sirip. Gerak pasif misalnya ditunjukkan oleh tumbuhan. Tumbuhan tidak dapat berpindah tempat, tetapi menggerakkan sebagaian tubuhnya.
Contohnya gerak daun menguncup, gerak batang menghadap cahaya, gerak akar mendekati sumber air serta gerak mekarnya bunga.
 
Peka terhadap Rangsang
mimosa_pudica 
Makhluk hidup peka terhadap perubahan yang terjadi disekitarnya. Alat pengenal lingkungan pada manusia dan hewan berupa indra. Indra peka terhadap rangsang. Rangsang dapat berupa cahaya, bunyi, bau, rasa atau sentuhan. Dengan adanya indra yang peka terhadap rangsang-rangsang tersebut, manusia dan hewan mempunyai kemampuan melihat, mendengar, mencium, mengecap rasa dan menyentuh/meraba.
Tumbuhan tidak mempunyai alat indra, tetapi peka terhadap rangsang. Misalnya tumbuhan putri malu menguncupkan daunnya jika disentuh dan pertumbuhan batang kearah cahaya matahari.
 
Makan
makan
Makanan diperlukan oleh makhluk hidup sebagai sumber energi, untuk pertumbuhan dan mengganti sel-sel yang rusak. Tumbuhan hijau memperoleh makanan dengan memproduksi sendiri. Tumbuhan hijau sebagai produsen mengolah zat-zat anorganik menjadi zat organic melalui proses fotosintesis.
Fotosintesis adalah proses pembuatan makanan oleh tumbuhan hijau dengan bantuan cahaya.
Tumbuhan tak berhijau daun, hewan dan manusia tidak dapat membuat makanan sendiri. Mereka memanfaatkan makanan dari hasil fotosintesis tumbuhan hijau dan sumber lain dari hewan dan alam.
 
Mengeluarkan Zat Sisa
 
Dalam proses penyerapan makanan, terbentuklah zat sisa yang merupakan zat yang tidak terserap oleh tubuh. Zat-zat itu disebut zat sisa oksidasi biologis, misalnya air dan karbon dioksida.Berdasarkan aktivitas tubuh dan hasilnya, pengeluaran zat-zat sisa dibedakan atas : Ekskresi, Respirasi, Defekasi.
  1. Ekskresi, merupakan pengeluaran zat-zat sisa yang dilakukan oleh kulit dan ginjal. Kulit akan mengeluarkan zat sisa yang dinamakan keringat karena adanya kelenjar keringat di bawah kulit. Ginjal akan menyaring darah dan mengeluarkan zat sisa yang disebut urine.
  2. Respirasi, merupakan pengeluaran CO2 sebagai zat sisa proses respirasi yang dikeluarkan melalui hidung.
  3. Defekasi, merupakan pengeluaran zat sisa pencernaan makanan yang berupa tinja (feses) melalui anus.
Tumbuh
Makhluk hidup mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan meliputi perubahan ukuran tubuh, yaitu luas, tinggi dan berat. Perkembangan adalah perubahan menjadi dewasa.
 
Berkembang Biak
Makhluk hidup berkembang biak untuk menghasilkan keturunan. Cara perkembangbiakan makhluk hidup berbeda-beda. Hewan berkembang biak antara lain dengan melahirkan, bertelur, bertelur-melahirkan, bertunas, fragmentasi atau membelah diri. Tumbuhan berkembang biak secara alami dan buatan.
Perkembangbiakan alami pada tumbuhan yaitu dengan biji (kawin) dan dengan tidak kawin, misalnya membelah diri, spora, tunas, umbi, geragih dan akar tinggal. Perkembangbikan tumbuhan secara buatan, misalnya stek, cangkok, runduk dan kultur jaringan.
 
Beradaptasi
Makhluk hidup mampu beradaptasi dengan lingkungan. Macam-macam adaptasi makhluk hidup adalah adaptasi morfologi, adaptasi tingkah laku, dan adaptasi fisiologi.
Adaptasi morfologi adalah penyesuaian terhadap lingkungan yang berhubungan dengan bentuk tubuh atau alat tubuh. Contoh pada katak dan itik terdapat selapu renang pada kakinya untuk berenang.
Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian terhadap lingkungan dalam bentuk tingkah laku. Contoh : hewan bermigrasi ke lain tempat yang banyak sumber makanan.
Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian terhadap lingkungan dalam bentuk tingkah laku. Contoh : berkeringat saat cuaca panas.
Dari ciri-ciri tersebut diatas ada perbedaan ciri hidup yang dimiliki antara hewan/manusia dengan tumbuhan, anatara lain :
Hewan/Manusia
1.Bergerak : Melakukan gerak pindah tempat.
2.Cara memperoleh makanan: Tidak dapat membuat makanan sendiri (heterotrof) . Bahan yg dimakan berupa zat organik.
3.Pertumbuhan: Hanya sampai batas usia tertentu
Tumbuhan
1.Bergerak :Tidak dapat berpindah tempat sendiri.
2.Cara memperoleh makanan: Dapat membuat makanan sendiri (autotrof), Bahan yang diperlukan untuk membuat makanan berupa zat anorganik
3.Pertumbuhan : .Tumbuh terus menerus sampai mati.

17 Juli 2013

Microtubules Function

Microtubules are one of the most important components of the cytoskeleton of a cell. They have a diameter of 25 nanometers and a length that varies from 200 nanometers to 25 micrometers. Microtubules serve as structural components within cells and are involved in many cellular processes that are vital for the survival of a cell, including mitosis, cytokinesis, and vesicular transport.

Microtubules Structure
Microtubules are nothing but polymers of α and β tubulin dimers. In protofilaments, these tubulin dimers polymerize end to end. The protofilaments then form bundles of hollow cylindrical filaments. Typically, the protofilaments arrange themselves in an imperfect helix, wherein one turn of the helix contains 13 tubulin dimers, each of which are from a different protofilament. A striking feature that aids in microtubules function is its peculiar polarity. Tubulin polymerizes end to end with the α subunit of one tubulin dimer coming in contact with the β subunit of the next. Therefore, in a protofilament, one end will have an exposed α subunit, while there will be an exposed β subunit at the other end. These ends are designated the (−) and the (+) ends, respectively. The protofilaments bundle in a parallel manner to one another, so in a microtubule, there is one end, the (+) end, with only the β subunits exposed while the other end, the (−) end, only has α subunits exposed. The (-) end is capped, thus, leaving out only the (+) end from where elongation of the microtubule can occur.

Function of Microtubules
When it comes to mitosis, this process is facilitated by a subgroup of microtubules known as astral microtubules, which are microtubules originating from the centrosome that do not connect to a kinetochore. Astral microtubules develop in the actin skeleton and interact with the cell cortex to aid in orientation of spindles during cell division. They are organized around the centrosomes into radial arrays. Astral microtubules function in tandem with specialized dynein motors, which are oriented with the light chain portion attached to the cell membrane and the dynamic portion which is attached to the microtubule. This allows for dynein contraction to pull the centrosome towards the cell membrane, thus assisting in cytokinesis in plants and animals.

Microtubules act as conveyor belts inside cells. They help to move vesicles, granules and organelles like mitochondria, and chromosomes via special attachment proteins. Vesicles get attached to microtubule associated proteins and move along the microtubule conveyor belt. The microtubule associated proteins include kinesins and dynein which move along the microtubules in opposite directions. Kinesins move vesicles along towards the plus end and dynein moves towards the minus end. This is how vesicles are moved from one region to another. This is active transport and hence, requires the breakdown of ATP, though it is not yet known how the energy from ATP breakdown is converted into vectorial transport.

Also, it is microtubules that join with other proteins to form more complex structures called cilia, flagella or centrioles. Microtubules also play a role in maintaining the cytoskeleton, that is, the basic structure of the cell. This is because, structurally, they are linear polymers of tubulin which is a globular protein present in the cytoplasm.

14 Juli 2013

Mineral

Mineral adalah bahan anoganik yang masuk kategori bahan kimia yang didapat makhluk dari alam, yang asalnya ialah dari tanah. Ada yang larut dalam air lalu masuk tubuh lewat air minum atau air yang dipakai untuk mencuci sayur dan memasak. Mineral itu biasanya masuk tubuh dalam bentuk garam, dan lalu digunakan dalam bentuk elektrolit. Elektrolit ialah bentuk ion dari mineral itu, bermuatan listrik positif (+) atau negatif (-). Ada sebagian mineral itu dipakai sel sebagai poros atau inti suatu molekul, ada pula dipakai untuk menghubungkan suatu cabang ke batang suatu molekul. Mineral bagi tubuh kita terdapat dua macam, yaitu Makromineral dan Mikromineral. Makromineral adalah mineral yang diperlukan tubuh dalam jumlah >100 mg/hari.Contoh: Ca, P, Na, K, Cl, Mg. Mikromineral adalah mineral yang  mengandung unsur renik yang diperlukan tubuh dalam jumlah <100 mg/hari. Contoh: Cr, Co, Cu, I, Fe, Mn, Mo, Se, Si, Zn dan F.
 

 
 1.Calsium (Ca)
Fungsi: pembentuk tulang, gigi, pengaturan fungsi saraf dan otot. Metabolisme: absorpsi perlu protein pengikat-Ca; diatur oleh vit.D, hormon paratiroid dan kalsitonin. Defisiensi: rakitis, osteomalasia, osteoporosis. Toksik: nausea, diare, iritabilitas. Sumber: susu, kacang-kacangan, sayuran

2.Phosphor (P)
Fungsi: pembentuk tulang, gigi, ATP, asam nukleat. Metabolisme: kadar dalam serum diatur oleh reabsorbsi ginjal. Defisiensi: riketsia, osteomalasia (dewasa). Toksik: hipertiroidisme, osteoporosis. Sumber: Zat aditif yang mengandung fosfat

3.Natrium (Na)
Fungsi: kation utama CES, mengatur volume plasma, keseimbangan asam basa, fungsi saraf dan otot, Na/K-ATP-ase. Metabolisme: diatur oleh Aldosteron. Defisiensi: tidak dikenal dalam diet. Toksik: hipertensi. Sumber: garam dapur

4.Kalium (K)
Fungsi: kation utama CIS, fungsi saraf otot, Na/K-ATP-ase. Metabolisme: diatur aldosteron. Defisiensi: akibat diuretik, kelemahan otot, paralisis, kekacauan mental. Toksik: henti jantung, ulkus usus halus. Sumber: sayuran, buah, kacang-kacangan

5.Clorida (Cl)
Fungsi: keseimbangan cairan dan elektrolit, getah lambung, transport HCO3 dalam eritrosit. Defisiensi: akibat vomitus, diuretik, penyakit ginjal. Sumber: garam meja

6.Magnesium (Mg)
Fungsi: Pembentuk tulang, gigi, cofaktor enzim. Defisiensi: akibat malabsorbsi, diare, pemabuk. Toksik: reflek tendon menurun, penurunan respirasi. Sumber: sayuran hijau

7.Chromium (Cr)
Fungsi: membentuk insulin. Defisiensi: gangguan toleransi glukosa. Sumber: daging, hati, ragi, padi-padian, kacang-kacangan, keju

8.Cobalt (Co)
Fungsi: konstituen vit.B12. Defisiensi: sama seperti defisiensi vit.B12 menyebabkan Asiduria metilmalonat, anemia megaloblastik. Sumber: makanan yang berasal dari hewan

9.Tembaga (Cu)
Fungsi: konstituen enzim oksidase, sitokrom oksidase, berperan dalam absorbsi besi. Metabolisme: diangkut oleh albumin, terikat dengan serulo plasmin. Defisiensi: anemia (hipokromik-mikrositer). Toksik: penyakit Wilson. Sumber : hati

10.Iodium (I)
Fungsi: konstituen tiroksin, trijodotironin. Metabolisme: disimpan dalam tiroid berupa tiroglobulin. Defisiensi: kretinisme, goiter, hipotiroid, miksedemia. Toksik: tirotoksikosis, goiter. Sumber: garam berjodium, ikan laut

11.Besi (Fe)
Fungsi: konstituen heme, Hb, sitokrom. Metabolisme: diangkut sebagai transferin, disimpan sebagai feritin/hemosiderin, hilang lewat perdarahan. Defisiensi: anemia (hipokromik mikrositer). Toksik: siderosis, hemokromatosis herediter. Sumber: daging, hati, telur, alat masak dari besi

12.Mangan (Mn)
Fungsi: co-factor enzim hidrolase, dekarboksilase, transferase, sintesis glikoprotein, proteoglikan. Toksik: inhalasi benda beracun menyebabkan psikotik dan parkinsonisme

13.Molibdenium (Mo)
Fungsi: konstituen enzim oksidase (xantin oksidase) yaitu enzim yang diperlukan dalam metabolisme purin menjadi asam urat. Penyakit, sumber: tidak ada ada

14.Selenium (Se)
Fungsi: konstituen glutation peroksidase. Metabolisme: antioksidan sinergistik dengan vit.E. Defiensi: terjadi jika kandungan dalam tanah rendah. Toksik: rambut rontok, dermatitis, irtabilitas. Sumber: tumbuhan

15.Silicon (Si)
Fungsi: kalsifikasi tulang, metabolisme glukose-minoglikan pada kartilago dan jaringan ikat. Defisiensi: gangguan pertumbuhan. Toksik: silikosis. Sumber: tumbuhan

16.Zenk (Zn)
Fungsi: co-factor enzim laktat dehidrogenase, alkalin fosfatase, karbonik anhidrase. Defisiensi: hipogonadisme, kegagalan pertumbuhan, kegagalan penyembuhan luka, penurunan kemampuan mengecap dan mencium. Toksik: iritasi gastrointestinal, muntah

17.Fluorida (F)
Fungsi: meningkatkan kekerasan tulang dan gigi. Defisiensi: karies dentis, osteoporosis. Toksis: fluorosis dentis. Sumber: air minum

Hakikat Biologi

Ruang Lingkup Biologi
Biologi bersal dari kata bios yang berarti hidup dan logos yang berarti pengetahuan. Jadi biologi dapat didefinisikan Ilmu pengetahuan yang mempelajari makhluk hidup. Sebagai ilmu pengetahuan, ilmu biologi mengkaji berbagai persoalan yang berkaitan dengan berbagai tingkat organisasi kehidupan dan interaksinnya dengan faktor lingkungan.

Objek Biologi
Objek biologi meliputi seluruh makhluk hidup. Pada awalnya Biologi memiliki 3 ragam objek berupa kerajaan (kingdom), yaitu Plantae (dunia tumbuhan),Animalia (dunia hewan), dan protista. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ragam objek biologi juga terus berkembang. Klasifikasi makhluk hidup yang semula dibagi 3 kingdom semenjak akhir abad ke-19 ragam objek Biologi berkambang menjadi 5 kingdom, yaitu Plantae, animalia,protista,dan fungi.
dalam perkembangan terakhir dunia makhluk hidup diklasifikasikan menjadi 6 kingdom, yaitu Plantae, Animalia,Protista,Fungi,Eubacteria,Archaebacteria.


Tingkat Organisasi Kehidupan
berdasarkan tingkat organisasi kehidupan, objek Biologi merupakan kehidupan yang berbagai tingkat struktur yang dimulai dari tingkat organisasi yang paling sederhana hingga yang paling kompleks, yaitu mulai dari tingkat molekul,sel,jaringan,organ,sistem organ,individu/organisme,populasi, komunitas, ekosistem, dan bioma.

a. Tingkat molekul
kajian Biologi pada tingkat molekul meliputi: berbagai jenis biomolekul yang menjadi penyusun tubuh makhluk hidup, misalnya air, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, DNA, dan RNA

b. Tingkat sel
kajian biologi pada tingkat sel meliputi: morfologi dan jenis sel, organ sel, fungsi sel, metabolisme sel, transportasi dalam sel, serta cara sel berproduksi.

c.Tingkat jaringan
kajian biologi tingkat jaringan meliputi: macam jaringan, komponen jaringan, fungsi jaringan, komponen penyusun jaringan, serta pembentukan dan perkembangan jaringan.

d. Tingkat organ
kajian biologi pada tingkat organ meliputi: jenis organ, penyusun organ, fungsi organ, perkembangan organ, transportsi organ, serta kelainan pada organ.

e. Tingkat sistem organ
kajian biologi pada tingkat sistem organ meliputi: macam sitem, penyusun sitem, fungsi dari berbagai sitem, cara kerja sistem, dan kelainan pada sistem.

f. Tingkat individu/organisme
kajian biologi pada tingkat individu meliputi: jenis individu, kedudukan individu dalam tingkat taksonomi, cara memperoleh makanan, cara bereproduksi, cara beradaptasi dan lain-lain.

g.Tingkat Populasi
kajian biologi pada tingkat populasi meliputi perkambangan populasi, jumlah kelahiran (natalitas), jumlah kematian (moralitas), perpindahan (migrasi) dan kompetisi dalam populasi.

h.Tingkat komunitas
kajian biologi pada tingkat komunitas meliputi: jenis populasi, kondisi lingkungan, hubungan timbal balik, interaksi antar makhluk hidup yang satu dengan yang lain, dan cara beradaptasi.

i. Tingkat ekositem
kajian biologi pada tingkat ekosistem meliputi: jenis ekositem, komponen penyusun ekositem, hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan, rantai makanan, jaring-jaring
makanan, dan aliran energi. serta pengaruh pencemaran terhadap organisme di dalam satu ekosistem dan karakteristik ekositem tercemar.

j. Tingkat bioma
kajian biologi tingkat bioma meliputi: macam bioma, ciri-ciri bioma, ciri-ciri iklim yang mempengaruhi, serta tumbuhan dan hewan khas yang terdapat dalam bioma.

12 Juli 2013

Hormon-hormon Pada Tumbuhan

Hormon tumbuhan (phytohormones) secara fisiologi adalah penyampai pesan antar sel yang dibutuhkan untuk mengontrol seluruh daur hidup tumbuhan, diantaranya perkecambahan, perakaran, pertumbuhan, pembungaan dan pembuahan. Sebagai tambahan, hormon tumbuhan dihasilkan sebagai respon terhadap berbagai faktor lingkungan kelebihan nutrisi, kondisi kekeringan, cahaya, suhu dan stress baik secara kimia maupun fisik. Oleh karena itu ketersediaan hormon sangat dipengaruhi oleh musim dan lingkungan.
Pada umumnya dikenal lima kelompok hormon tumbuhan: auxins, cytokinins, gibberellins, abscisic acid and ethylene. Namun demikian menurut perkembangan riset terbaru ditemukan molekul aktif yang termasuk zat pengatur tumbuh dari golongan polyamines seperti putrescine or spermidine.
Auxins
Auxin adalah zat aktif dalam system perakaran. Senyawa ini membantu proses pembiakkan vegetatif. Pada satu sel auxins dapat mempengaruhi pemanjangan cell, pembelahan sel dan pembentukan akar. beberapa type auxins aktif dalam konsentrasi yang sangat rendah antara 0.01 to 10 mg/L.
Cytokinins merangsang pembelahan sel, pertumbuhan tunas, dan mengaktifkan gen serta aktifitas metabolis secara umum.pada saat yang sama cytokinins menghambat pembentukan akar. oleh karenanya cytokinin sangat berguna pada proses kultur jaringan dimana dibutuhkan pertumbuhan yang cepat tanpa pembentukan perakaran. secara umum konsntrasi cytokinin yang digunakan antara 0.1 to 10 mg/L
Gibberellin adalah turunan dari asam gibberelat. Merupakan hormon tumbuhan alami yang merangsang pembungaan, pemanjangan batang dan membuka benih yang masih dorman. Ada sekitar 100 jenis gibberellin, namun Gibberellic acid (GA3)-lah yang paling umum digunakan.
Abscisic acid
Asam Abscisat (ABA) adalah penghambat pertumbuhan merupakan lawan dari gibberellins: hormon ini memaksa dormansi, mencegah biji dari perkecambahan dan menyebabkan rontoknya daun, bunga dan buah. Secara alami tingginya konsentrasi asam abscisat ini dipicu oleh adanya stress oleh lingkungan misalnya kekeringan.
Ethylene merupakan senyawa unik dan hanya dijumpai dalam bentuk gas. senyawa ini memaksa pematangan buah, menyebabkan daun tanggal dan  merangsang penuaan. Tanaman sering meningkatkan produksi ethylene sebagai respon terhadap stress dan sebelum mati. Konsentrasi Ethylene fluktuasi terhadap musim untuk mengatur kapan waktu menumbuhkan daun dan kapan mematangkan buah.
Polyamines
Polyamines mempunyai peranan besar dalam proses genetis yang paling mendasar seperti sintesis DNA dan ekspresi genetika. Spermine dan spermidine berikatan dengan rantai phosphate dari asam nukleat. Interaksi ini kebanyakkan didasarkan pada interaksi ion elektrostatik antara muatan positif kelompok ammonium dari polyamine dan muatan negatif dari phosphat.
Polyamine adalah kunci dari migrasi sel, perkembangbiakan dan diferensiasi pada tanaman dan hewan. Level metabolis dari polyamine dan prekursor asam amino adalah sangat penting untuk dijaga, oleh karena itu biosynthesis dan degradasinya harus diatur secara ketat.
Polyamine mewakili kelompok hormon pertumbuhan tanaman, namun merekan juga memberikan efek pada kulit, pertumbuhan rambut, kesuburan, depot lemak, integritas pankreatis dan pertumbuhan regenerasi dalam mamalia. Sebagai tambahan, spermine merupakan senyawa penting yang banyak digunakan untuk mengendapkan DNA dalam biologi molekuler. Spermidine menstimulasi aktivitas dari T4 polynucleotida kinase and T7 RNA polymerase dan ini kemudian digunakan sebagai protokol dalam pemanfaatan enzim.

11 Juli 2013

Gallinipper

Salah satu serangga paling ganas yang pernah dikenal adalah nyamuk Gallinipper (Psorophora ciliata). Konon, rasa sakit gigitannya sama seperti ditikam sebilah pisau. Gallinipper sama menakutkannya dengan ular piton, ikan hiu, badai tropis, dan bencana lainnya. Saat ini, nyamuk itu sedang beranak pinak dengan suburnya di Florida, Amerika Serikat. 


Lompatan jumlah populasi nyamuk ini disebabkan telur-telur Gallinipper menetas setelah hujan badai dan banjir yang menimpa negara itu pada musim panas lalu. Telur yang diproduksi tahun lalu, akhirnya "panen" di musim panas ini. "Saya tidak terkejut dengan jumlahnya, mengingat angka yang kita lihat tahun lalu. Di saat kita dilanda musim hujan, maka kita akan melihatnya lagi," kata Phil Kaufman, entomolog dari Universityof Florida, sebagaimana dilansir LiveScience. Kaufman menjelaskan telur Gallinipper sangat tangguh, tidak mudah menetas. Telur bisa bertahan selama bertahun-tahun, menunggu air bah datang yang akan membuatnya menetas. "Bahkan, saat masih berupa larva, Gallinipper sudah mampu memangsa makhluk kecil yang hidup di air," Kaufman menambahkan. Setelah dewasa, Gallinipper menjadi hama yang rakus. Ia akan mencari mangsa siang dan malam, berbeda dengan nyamuk biasa yang mencari mangsa saat malam dan pagi. Gigitannya pun bertenaga, bisa menembus pakaian. Tak hanya itu, nyamuk menyeramkan ini juga dikenal sebagai pemangsa hewan peliharaan, hewan liar, dan ikan. 


"Ukuran Gallnipper 20 kali lebih besar dari nyamuk biasa. Rasa sakit akibat gigitannya seperti saat Anda ditusuk sebilah pisau," kata AnthonyPelaez dari Museum of Science and Industry di Tampa, Florida. Sejatinya, nyamuk ini tidak beracun. Hanya saja, itu tadi, gigitannya sangat menyakitkan. Cairan penangkal serangga tidak cukup kuat untuk menangkal Gallinipper, karena ukurannya yang sangat besar. 


"Bahkan ada anggapan hanya lapisan perak yang dapat menangkal nyamuk itu. Ini menunjukkan betapa berbahayanya Gallinipper dibanding serangga-serangga lain," kata Kaufman. Semoga nyamuk ini tidak masuk ke Indonesia. 
 
Sumber :Biologipedia

10 Juli 2013

Life Cycle of Angiosperms

Angiosperms are plants that produce flowers, which are nothing but the reproductive machinery of the plant. The life cycle of angiosperms begin with pollination and end in the formation of fruits which contains seeds that germinate into new plants which mature till they reach the flowering stage, thereby, completing a full circle. Now, before we discuss the details of the life cycle of angiosperms, let's check out the different parts of the flower that participate in the reproductive cycle to continue the species even after the parent plant dies or withers away.
 

Parts of Flower that Participate in the Reproduction Cycle
Following are those parts of a flower that actually facilitate the entire reproductive mechanism which results in the production of seeds. This seed, when it finds a combination of favorable environmental conditions (right kind of soil, adequate moisture, sufficient amount of air and temperature, etc.), sprouts into seedlings, which then grow into plants. On reaching maturity, the new, young plants grow flowers themselves, and the process starts all over again.

Stamen: This is the male reproductive part of a flower, and it consists of a long, slender filament, which can be seen occurring as a number of long, pliant stalks arranged in a circle on the inside of the flower, surrounded by petals. These filaments are topped with small, often oblong, head like structures known as anthers. The stamen is where the pollen grains are produced, and these pollen grains are carried from the anthers to the female reproductive organ, where they fertilize the ovules, but we'll discuss that later. So, to put it simply, male parts of a flower = stamens = filaments + anthers!

Carpel: Also known as pistil, carpel is the female reproductive part of a flower which is a goglet (long-necked earthen vessel used for storing water) like structure, and is composed of the stigma, style and the ovary. The stigma forms the mouth, the style forms the neck, and the ovary forms the girth of the goglet. The pollen produced by the stamen gets deposited on the stigma, travels down the style to the ovary, and fuses with the ovules therein to form the zygotes, which later become the seeds of the resulting fruit. Therefore, simply put, female parts of flower = carpel = stigma + style + ovary!

Angiosperm Life Cycle

Pollen and Pollination: Two kinds of spores, megaspores and microspores exist in the ovary and stamens respectively. These spores undergo meiosis, and the megaspores become the ovules and microspores become the pollens. In the flowering season, the pollens gather on the anthers and are carried to the stigma either by the wind, insects, birds or other animals. In case of self pollination, where a single flower has both a carpel and stamens inside it, the stamens (which happen to be taller than the carpel in such a case) bend over the carpel and deposit their pollens on the stigma. These pollens travel down the style to the ovary, where they come in contact with the ovules. Pollen grains are composed of two types of cells known as generative cells and tube cells. The generative cells split into two sperm cells at the time of pollination before they come in contact with the ovules. Each ovule contains one female gamete (sexual reproductive cell).

Fertilization: Each pollen grain that gets deposited upon the stigma grows a long pollen tube downwards along the inner cavity of the style, and it deposits its contents on the embryo sacs which have formed inside the ovary by now. One sperm cell among all those released by the pollen tube gets to combine with the nucleus of the egg cell, and this fusion results in the formation of a zygote. After fertilization has taken place, the carpel of the flower, especially the ovary, begins growing bigger, as if swelling outwards, and ultimately forms the fruit.

Fruit and Seed:
Most of the time, the style and the stigma parts of the carpel dry out or fall off. This fruit holds the mature seeds which were formed when the ovules got fertilized to form zygotes. Every single seed contains everything necessary for the germ to survive, including genetic matter as well as nutrition, till the seed finds a suitable growing environment. Once the seed finds such an environment, the seedling emerges, beginning with a small root like structure, growing downwards into the soil, followed by a tender sprout that gradually grows upwards.

buzzle.com